Metode Farmakologi 3
Nama : Wahyu Ammarullah
Nim : F1F120070
Teknik Pengujian Antituberkulosis Secara Invitro : “In Vitro Drug Discovery Models for Mycobacterium Tuberculosis Relevant for Host Infection”
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis
Medium Lowenstein- Jensen (LJ) merupakan medium yang paling banyak digunakan untuk kultur tuberkulosis.
Medium Lowenstein- Jensen (LJ) merupakan medium yang paling banyak digunakan untuk kultur tuberkulosis.
Berikut link Video : https://youtu.be/DQ8_ELtyL-M
Dari pemaparan, saat pengujian anti TB dengan metode LJ menggunakan kultur , sehingga terdapat senyawa tanin, lalu mengapa dengan indikasi tanin dapat dinilai mampu menangangi pada antibakteri anti tb?
BalasHapusTanin bekerja dengan cara mengendapkan protein dan dapat merusak membran sel sehingga pertumbuhan mikroba terhambat. Sudira, dkk (2011) menambahkan bahwa senyawa tanin merupakan senyawa organik yang aktif menghambat pertumbuhan mikroba dengan mekanisme merusak dinding sel mikroba dan membentuk ikatan dengan protein fungsional sel mikroba. Mekanisme antibakteri yang dimiliki tanin yaitu kemampuannya menghambat sintesis peptidoglikan yang digunakan untuk pembentukan dinding sel pada Mtb dan merusak membran sel sehingga pertumbuhan Mtb terhambat. Tanin juga merupakan senyawa yang bersifat lipofilik sehingga mudah terikat pada dinding sel dan mengakibatkan kerusakan dinding sel.
HapusDisampaikan bahwa hasil virus tb dapat dilihat gambar seperti ekor kuda, bagaimana parameter yang mudah diamati berdasarkan pertumbuhan virus pada pemeriksaan kultur tersebut?
BalasHapusPada pemeriksaan kultur, parameter yang mudah diamati berdasarkan pertumbuhan virus pada kultur adalah waktu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan virus tersebut. Mikobakterium tuberculosis tumbuh dengan lambat dan memerlukan waktu lebih dari 21 hari untuk periode kultur pada agar1. Mikobakterium ini tumbuh pada media kultur dengan kandungan lemak yang tinggi seperti media Lowenstein-Jensen (LJ
HapusDalam pendeteksian obat antiTB perlu dilakukan uji yang berarti menjadi penentu agar obat tepat indikasi, lalu apakah ada cemaran pada uji menggunakan media LJ ini? Jika ada, bagaimana kemungkinan penyebabnya bisa terdapat cemaran?
BalasHapusKebanyakan bahan pemeriksaan kultur
HapusMycobacteria mengandung banyak kuman cemaran.
Tidak satupun senyawa penghambat yang dapat menjamin 100% kuman cemaran akan mati.
Beberapa kuman resisten seperti Pseudomonas, Enterobacteriacea, Streptococcus, Bacillus, dan jamur masih dapat tumbuh pada media kultur.
Angka kejadian cemaran pasca inokulasi antara 3-5% merupakan hal yang wajar. Jika pengolahan bahan tidak baik atau pengirim terlambat, angka cemaran dapat mencapai 10% atau lebih. Sebaliknya tidak pernah teramatinya cemaran, juga merupakan tanda kurang baik. Tidak adanya cemaran sama sekali kemungkinan akibat pengolahan bahan yang terlalu keras atau lama, dengan konsekuensi adalah isolation
rate M tuberculosis juga akan berkurang (Sjahrurachman, 2008). Pada penelitian ini kuman cemaran terdeteksi total sebanyak 9/53 (17%).
Sedangkan terdeteksinya pertumbuhan kultur kontaminan, yaitu meleburnya sebagian media pada pertumbuhan awal Hari pertama setelah masa
inkubasi) ditemukan pada 5 sampel 5/53 (9,4%) semua pada media LJ, yaitu sampel no 47, 35, 16, 6, dan 5. Tingginya angka cemaran (kontaminan) pada hasil pertumbuhan sputum kultur kemungkinan
disebabkan oleh jarak waktu pengumpulan sampel dan pengolahan sputum.